Istilah perkembangan ekonomi sering dicampur baurkan dengan
pertumbuhan ekonomi, dan pemakaiannnya selalu berganti-ganti, sehingga
kelihatan pengertian antara keduanya dianggap sama menurut Fahri,Koerul (2009),
mengatakan bahwa di Negara-negara maju kenaikan dalam tingkat pendapatan
biasanya disebut pertumbuhan ekonomi. Sedangkan, di Negara berkembang disebut
perkembangan ekonomi.
Teori
Modernisasi
A. Analisis Teori
WW
Rostow Sangat popular dan paling banyak komentar dari ahli Artikel : Economics Journal (Maret 1956) dimuat dalam Buku The Stages
of Economics Growth (1960). Menurut WW Rostow, Pembangunan Ekonomi
merupakan suatu proses yang dapat menyebabkan:
1. Perubahan
orientasi ekonomi, politik dan sosial yang pada mulanya berorientasikepada
suatu daerah menjadi berorientasi keluar.
2. Perubahan
pandangan masyarakat mengenai jumlah anak dalam keluarga yaitukesadaran untuk membina keluarga kecil.
3. Perubahan
dalam kegiatan investasi masyarakat dari melakukan investasi yang
tidakproduktif menjadi investasi yang produktif.
4. Perubahan
sikap hidup dari adat istiadat yang kurang merangsang pembangunanekonomi
misalnya kurang menghargai waktu kerja dan orang lain.
Basis Asumsi Teori Rostow membagi proses
pembangunan menjadi lima tahap, adalah sebagai berikut :
Masyarakat
tradisional ,Pra-kondisi
tinggal landas,Tinggal
landas,Menuju
kedewasaan (tahap kematangan),Era
konsumsi massa tinggi
Beragam pengalaman
politik dan ekonomi yang telah diperoleh Indonesia sejak kemerdekaan pada tahun
1945, era orde lama, era orde baru, dan hingga era reformasi seperti sekarang.
Iklim politik yang dinamis dirasakan Indonesia saat peralihan dari Orde Lama ke
Orde Baru. Walaupun cenderung mengarah ke otoriter, namun kehidupan ekonomi
ketika itu mengalami perubahan kearah lebih baik. Pada era orde baru kegiatan
pemerintah memang lebih banyak mengarah ke bidang ekonomi, meski terkesan
monopolistic, sedangkan era orde lama dan era reformasi sekarang pemerintah
lebih cenderung kebidang politik. Tetapi tetap saja urusan ekonomi menjadi
perhatian pemerintah sekarang ini karena melihat terjadinya krisis ekonomi
global.
A. Era Orde Lama (1945
- 1966)
Ketidakstabilan
kehidupan politik dan seringnya kabinet berganti membuat perekonomian pun
kurang berkembang dengan baik. Pertumbuhan ekonomi mengalami kemunduran yang
drastis dari 6,9 % pada periode 1952-1958 menjadi hanya 1,9 % saat periode
1960-1965. Ketika itu harga-harga terus membumbung tinggi karena terjadinya
defisit anggaran belanja pemerintah yang terus meningkat setiap tahunnya yang
kemudian dibiayai dengan mencetak uang baru. Hingga pada akhir kekuasaan
pada tahun 1966, laju inflasi terus meningkat mencapai 650 %.
B. Era Orde Baru (1966
- 1997)
Pada masa transisi
ini, perekonomian Indonesia masih tidak menentu. Dari segi ekonomi saja banyak
sekali masalah pelik yang diwariskan oleh orde lama kepada orde baru. Untuk
menyelamatkan perekonomian ini, pemerintah menetapkan beberapa langkah
prioritas kebijakan ekonomi dengan membagi dalam program jangka pendek dan
jangka panjang.
Program jangka pendek
ditempuh dalam dua tahun dengan empat tahap penyelamatan. Setelah dua tahun,
dilanjutkan dengan program jangka panjang yang terdiri atas rangkaian Rencana
Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang berjalan penuh hingga Pelita VI, sedangkan
pelita VII sempat berjalan satu anggaran tahun saja.
Pada era orde baru
baru ini, terjadi krisis yang berkelanjutan dari krisis moneter, krisis
ekonomi, krisis politik, hingga krisis sosial yang selalu diwarnai aksi
demonstrasi mahasiswa. Aksi-aksi mahasiswa ini berujung turunnya Presiden
Soeharto dari jabatannya yang menandai runtuhnya rezim orde baru. Selama rezim
orde baru tersebut pembangunan diarahkan pada pencapaian Trilogi Pembangunan
yang termasuk dalam rangkaian Pelita. Pada Pelita VI yang seharusnya
direncanakan sebagai era pembangunan ekonomi tinggal landas (take off).
Namun yang awalnya sektor pertanian sebagai penyumbang utama terhadap Produk
Domestik Bruto (PDB), kemudian digantikan oleh sektor industri pengolahan.
Langkah ini ternyata gagal, bukannya menjadi penghasil devisa, industri
pengolahan ini malahan menjadi penghambur devisa.
Strategi
industrialisasi import yang diterapkan pemerintah Indonesia ternyata telah
gagal membawa perekonomian Indonesia tinggal landas dan mengurangi kesenjangan
dengan negara-negara maju.
Perekonomian Indonesia
malahan semakin terpuruk karena fundamentalnya kurang kuat memegang sektor
industri. Berarti dalam kasus ini, teori Fedrich List telah terbukti, bahwa di
daerah berhawa tropis hanya cocok untuk sektor ekonomi pertanian.
C. Masa Reformasi
(1998 - sekarang)
Krisis moneter yang
belanjut dengan krisis ekonomi masih belum bisa dipisahkan pada masa reformasi
ini. Walaupun ada pertumbuhan ekonomi sekitar 6% untuk tahun 1997 dan 5,5%
untuk tahun 1998, namun belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan karena laju
inflasi masih tinggi yaitu sekitar 10%. Hal berbeda terjadi pada tahun 1999
yang sudah mengalami pertumbuhan positif, pada tahun 1998 seluruh sektor masih
mengalami pertumbuhan negatif.
Sejak tahun 1999
hingga sekarang, pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin menunjukan kearah yang
menggembirakan. Di bawah kepemimpinan yang demokratis, pertumbuhan ekonomi
Indonesia terus mengalami pemulihan. Dari sini, Indonesia telah mendapatkan
pengakuan di mata dunia hingga dinobatkan sebagai terbaik ketiga di dunia.
Bahkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, ke depannya menargetkan
pertumbuhan ekonomi selama 2010-2014 rata-rata sekitar 6,3 bahkan 6,9% persen
per tahun dengan pertumbuhan di tahun 2010 sebesar 7% - 7,2%. Namun tetap saja,
semuanya dikembalikan lagi pada fluktuasi stabilitas sosial, politik, dan
keamanan bangsa. Jika tidak terjadi pasang surut, maka semuanya bisa berjalan
dengan lancar.
Namun yang sangat
membingungkan dari tahapan perkembangan ekonomi Indonesia adalah sebelum
Indonesia menyelesaikan tahap Lepas Landas (take off), Indonesia langsung
meloncat ke arah Konsumsi Tinggi (the age of high mass consumtion)
seperti sekarang ini. Munculnya banyak masyarakat yang konsumtif di daerah
perkotaan tanpa peduli dengan keadaan ekonomi bangsa. Belum lagi tingkat
belanja para pejabat Negara yang tinggi sekali dengan memakai uang rakyat.
Tentunya hal ini tanpa melewati tahap gerakanke arah kedewasaan (the drive
of maturity).
DAFTAR
PUSTAKA
· Ai
siti farida, SE., M.Si. sistem ekonomi indonesia, pustaka setia bandung 2010
· Schoorl,
J.W.1982.Modernisasi . Jakarta ; PT.Gramedia
· Subandi. 2005. Sistem
Ekonomi Indonesia. Bandung: Alfabeta.