KETIKA REKAYASA MELUAS , KEPERCAYAAN PUBLIK PUN MENURUN . KENAPA ?
BAB I
PENDAHULUAN
Pada setiap aktifitas korporasi baik internal maupun eksternal, sebuah perusahaan akan senantiasa bersentuhan dengan entitas lain berupa korporasi maupun perseorangan. Setiap interaksi berasal dari kepentingan yang dimiliki oleh setiap entitas tersebut. Kepentingan yang menjadi dasar interaksi tersebut terkadang sama, namun bisa juga berbeda. Perbedaan yang ada tersebut terkadang menimbulkan konflik yang dapat menyebabkan perselisihan dan menimbulkan kerugian.
Untuk itu, dalam rangka memelihara hubungan diantara entitas yang saling berinteraksi dalam aktifitas korporasi, dirumuskanlah tata aturan atau etika dalam melakukan setiap aktifitas korporasi tersebut yang dikenal dengan etika bisnis.
Tujuan penulis dalam menyusun karya tulis ini adalah untuk memberikan tambahan pengetahuan kepada pembaca mengenai etika bisnis dan contoh kasus serta analisanya. Dengan hal terebut diharapkan para pembaca dapat lebih memahami tentang etika bisnis, serta manfaatnya dalam akktifitas korporasi.
BAB II
DASAR TEORI
Menurut Dr. H. Budi Untung, Pengertian Etika Bisnis adalah pengetahuan tentang tata cara ideal pengaturan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku secara universal dan secara ekonomi atau sosial. Penerapan norma dan moralitas ini menunjang maksud dan tujuan kegiatan dalam bisnis. Dalam penerapan etika bisnis, maka bisnis mesti mempertimbangkan unsur norma dan moralitas yang berlaku di dalam masyarakat. Di samping itu etika bisnis dapat digerakkan dan dimunculkan dalam perusahaan sendiri karena memiliki relevansi yang kuat dengan profesionalisme bisnis.
Prinsip Prinsip Etika Bisnis
Secara umum etika bisnis merupakan acuan cara yang harus ditempuh oleh perusahaan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Oleh karena itu, etika bisnis memiliki prinsip-prinsip umum yang dijadikan acuan dalam melaksanakan kegiatan dan mencapai tujuan bisnis yang dimaksud. Adapun prinsip prinsip etika bisnis tersebut sebagai berikut :
- Prinsip Otonomi dalam Etika Bisnis
Dalam prinsip otonomi etika bisnis lebih diartikan sebagai kehendak dan rekayasa bertindak secara penuh berdasar pengetahuan dan keahlian perusahaan dalam usaha untuk mencapai prestasi-prestasi terbaik sesuai dengan misi, tujuan dan sasaran perusahaan sebagai kelembagaan. Disamping itu, maksud dan tujuan kelembagaan ini tanpa merugikan pihak lain atau pihak eksternal.
Dalam pengertian etika bisnis, otonomi bersangkut paut dengan kebijakan eksekutif perusahaan dalam mengemban misi, visi perusahaan yang berorientasi pada kemakmuran , kesejahteraan para pekerjanya ataupun komunitas yang dihadapinya. Otonomi disini harus mampu mengacu pada nilai-nilai profesionalisme pengelolaan perusahaan dalam menggunakan sumber daya ekonomi. Kalau perusahaan telah memiliki misi, visi dan wawasan yang baik sesuai dengan nilai universal maka perusahaan harus secara bebas dalam arti keleluasaan dan keluwesan yang melekat pada komitmen tanggung jawab yang tinggi dalam menjalankan etika bisnis.
Dua perusahaan atau lebih sama-sama berkomitmen dalam menjalankan etika bisnis, namun masing-masing perusahaan dimungkinkan menggunakan pendekatan berbeda-beda dalam menjalankannya. Sebab masing-masing perusahaan dimungkinkan menggunakan pendekatan berbeda-beda dalam menjalankannya. Sebab masing-masing perusahaan memiliki kondisi karakter internal dan pendekatan yang berbeda dalam mencapai tujuan, misi dan strategi meskipun dihadapkan pada kondisi dan karakter eksternal yang sama. Namun masing-masing perusahaan memiliki otoritas dan otonomi penuh untuk menjalankan etika bisnis. Oleh karena itu konklusinya dapat diringkaskan bahwa otonomi dalam menjalankan fungsi bisnis yang berwawasan etika bisnis ini meliputi tindakan manajerial yang terdiri atas : (1) dalam pengambilan keputusan bisnis, (2) dalam tanggung jawab kepada : diri sendiri, para pihak yang terkait dan pihak-pihak masyarakat dalam arti luas.
- Prinsip Kejujuran dalam Etika Bisnis
- Prinsip Keadilan dalam Etika Bisnis
- Prinsip Hormat Pada Diri Sendiri dalam Etika Bisnis
Segala aspek aktivitas perusahaan yang dilakukan oleh semua armada di dalam perusahaan, senantiasa diorientasikan untuk memberikan respek kepada semua pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Dengan demikian, pasti para pihak ini akan memberikan respek yang sama terhadap perusahaan. Sebagai contoh prinsip hormat pada diri sendiri dalam etika bisnis : manajemen perusahaan dengan team wornya memiliki falsafah kerja dan berorientasikan para pelanggan akan makin fanatik terhadap perusahaan. Demikian juga, jika para manajemennya berorientasikan pada pemberian kepuasan kepada karyawan yang berprestasi karena sepadan dengan prestasinya maka dapat dipastikan karyawan akan makin loya terhadap perusahaan.
BAB III
CONTOH KASUS dan PEMBAHASAN
- Contoh Kasus
Kasus-kasus skandal keuangan serupa juga pernah terjadi pada perusahaan Go Public Indonesia seperti kasus PT. Kimia Farma Tbk. PT. Kimia Farma Tbk telah terbukti melakukan perekayasaan laporan keuangan yaitu dengan jalan memperbesar laba. Laba bersih untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2001 telah ditemukan kesalahan yang cukup mendasar. Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yang disajikan hanya sebesar Rp 99,56 miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau 24,7% dari laba awal yang dilaporkan. Kesalahan itu timbul pada unit Industri Bahan Baku yaitu kesalahan berupa overstated penjualan sebesar Rp 2,7 miliar, pada unit Logistik Sentral berupa overstated persediaan barang sebesar Rp 23,9 miliar, pada unit Pedagang Besar Farmasi berupa overstated persediaan sebesar Rp 8,1 miliar dan overstated penjualan sebesar Rp 10,7 miliar. (Badan Pengawas Pasar Modal – Bapepam, 2002).
Survei yang menggambarkan kinerja perusahaan di Indonesia pernah dilakukan oleh Price Water House Coopers-PWC dan Jakarta Stock Exchange-JSX (2002) yang menyatakan bahwa persepsi standar pengelolaan perusahaan (corporate governance) publik di Indonesia yang dilihat dari aspek: auditing and compliance, accountability to shareholder, disclosure and transparancy, and board processes masih rendah dibandingkan dengan negara-negara Asia dan Australia.
Penelitian Gusnardi dalam Green dan Calderon (1999) Menemukan bahawa faktor yang mempengaruhi manajemen melakukan kecurangan adalah untuk meningkatkan kondisi keuangan perusahaan, memudahkan penggelapan dan penerbitan saham. Hal ini membuktikan bahwa kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh manjemen dalam penyajian laporan keuangan dimungkinkan oleh ketidak efektifan internal audit. Karena kecurangan ini mengakibatkan informasi yang disampaikan manajemen menjadi tidak akurat dan tidak menggambarkan nilai fundamental perusahaan.
Risiko ini berdampak pada reputasi perusahaan dimata pemerintah ataupun publik dan pada akhirnya harus menghadapi konsekuensi risiko seperti hilangnya kepercayaan publik dan pemerintah akan kemampuan perusahaan, penurunan pendapatan jasa audit, hingga yang terburuk adalah kemungkinan di tutupnya perusahaan tersebut.
- Pembahasan
- Prinsip Kejujuran, dan
- Prinsip keadilan.
Sanksi finansial yang diberikan kepada penanggung jawab perusahaan tentunya akan mengganggu keuangan serta aktifitas manajemen. Manipulasi laporan keuangan juga membuat penilaian masyarakat terhadap kondisi perusahaan menjadi tidak akurat. Hal yang paling merugikan menurut penulis adalah turunnya kepercayaan publik terhadap perusahaan yang dapat berakibat pada menurunnya konsumsi masyarakat terhadap produk-produk yang dihasilkan. Investor juga cenderung akan mengevaluasi keputusannya untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut mengingat prinsip kejujuran dan keadilan yang tidak dapat dipenuhi.
Sumber :
http://www.pengertianpakar.com/2015/01/pengertian-dan-prinsip-etika-bisnis.html
http://nonirosalia.blogspot.co.id/2014/10/skandal-manipulasi-laporan-keuangan_71.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar