Pantun Sunda pengertiannya
berbeda dengan pantun
Melayu. Pantun Melayu semakna dengan "sisindiran"
Sunda, yaitu puisi yang terdiri atas dua bagian; sampiran dan isi. Sedangkan
pantun Sunda adalah seni pertunjukan. Pantun adalah cerita
tutur dalam bentuk sastra Sunda lama yang disajikan secara paparan (prolog),
dialog, dan seringkali dinyanyikan. Seni Pantun itu dilakukan oleh seorang juru
pantun (tukang pantun) sambil diiringi alat musik kecapi yang
dimainkannya sendiri.
Pantun yang dibawakan,
pada umumnya berisi nasihat bagi manusia agar kehidupannya bisa lebih baik.
Agar selalu ingat pada Tuhan dan leluhurnya. Tidak jarang juga berisi kritik
terhadap masalah sosial dan pemerintahan.
Tapi tidak jarang juga
kedua seniman ini memasukan lelucon-lelucon yang selalu ditimpali oleh para
penonton dan biasanya berhasil membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
Menurut Mang Ayi, dulunya, pantun buhun sering digunakan untuk menyampaikan informasi bagi masyarakat. Dan alur pantun buhun memang harus selalu terkait dengan masalah sosial, negara, atapun pemerintahan.
Menurut Mang Ayi, dulunya, pantun buhun sering digunakan untuk menyampaikan informasi bagi masyarakat. Dan alur pantun buhun memang harus selalu terkait dengan masalah sosial, negara, atapun pemerintahan.
Di daerah tertentu
pantun masih di gemari masyarakat, meskipun dalam jumlah yang semakin mengecil
dan hampir tidak ada lagi pertunjukan pantun untuk memeriahkan suatu acara. Hal
ini di sebabkan oleh pengaruh zaman dan pengaruh teknologi, sehingga pertunjukan
pantun kalah bersaing dengan pertunjukan-pertunjukan modern lainnya. Demikian
juga para juru pantun makin lama makin berkurang, danjuga beberapa versinya
yang makin lama makin memudar.
Jangan
sampai kita melupakan kesenian-kesenian Indonesia, seperti yang terjadi pada
pantun sunda. Kita harus melihat perkembangan zaman dan mengikutinya, tetapi
kita tidak boleh menggantikan budaya-budaya Nasional dengan budaya modern.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar