Sabtu, 07 Desember 2013

Menghilangnya PANTUN SUNDA

( Manusia dan kegelisahan )

Pantun Sunda pengertiannya berbeda dengan pantun Melayu. Pantun Melayu semakna dengan "sisindiran" Sunda, yaitu puisi yang terdiri atas dua bagian; sampiran dan isi. Sedangkan pantun Sunda adalah seni pertunjukan. Pantun adalah cerita tutur dalam bentuk sastra Sunda lama yang disajikan secara paparan (prolog), dialog, dan seringkali dinyanyikan. Seni Pantun itu dilakukan oleh seorang juru pantun (tukang pantun) sambil diiringi alat musik kecapi yang dimainkannya sendiri.
Pantun yang dibawakan, pada umumnya berisi nasihat bagi manusia agar kehidupannya bisa lebih baik. Agar selalu ingat pada Tuhan dan leluhurnya. Tidak jarang juga berisi kritik terhadap masalah sosial dan pemerintahan.



Tapi tidak jarang juga kedua seniman ini memasukan lelucon-lelucon yang selalu ditimpali oleh para penonton dan biasanya berhasil membuat mereka tertawa terbahak-bahak.

Menurut Mang Ayi, dulunya, pantun buhun sering digunakan untuk menyampaikan informasi bagi masyarakat. Dan alur pantun buhun memang harus selalu terkait dengan masalah sosial, negara, atapun pemerintahan.
 Di daerah tertentu pantun masih di gemari masyarakat, meskipun dalam jumlah yang semakin mengecil dan hampir tidak ada lagi pertunjukan pantun untuk memeriahkan suatu acara. Hal ini di sebabkan oleh pengaruh zaman dan pengaruh teknologi, sehingga pertunjukan pantun kalah bersaing dengan pertunjukan-pertunjukan modern lainnya. Demikian juga para juru pantun makin lama makin berkurang, danjuga beberapa versinya yang makin lama makin memudar.
            Jangan sampai kita melupakan kesenian-kesenian Indonesia, seperti yang terjadi pada pantun sunda. Kita harus melihat perkembangan zaman dan mengikutinya, tetapi kita tidak boleh menggantikan budaya-budaya Nasional dengan budaya modern.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar